Izinkan Kami Melanjutkan Membangun Generasi Izzah: Menegakkan Martabat di Tengah Derasnya Arus

Izinkan Kami Melanjutkan Membangun Generasi Izzah: Menegakkan Martabat di Tengah Derasnya Arus

HARUS diakui bahwa pondok pesantren adalah investasi peradaban. Menjaganya berarti menjaga masa depan umat. Menguatkannya berarti menguatkan peradaban bangsa.

Bukan tanpa alasan, bahwa pondok pesantren hari ini menjadi salah satu benteng moral terkuat di tengah gempuran budaya global. Tanpa menafikan lembaga pendidikan lain yang ada.

Kehadiran pondok pesantren di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 30 ribu unit pesantren (menurut data dari berbagai sumber), tentunya harus disyukuri oleh masyarakat muslim tanah air. Setidaknya dengan jumlah tersebut ummat muslim tidak kesulitan untuk mendidik anak-anaknya bersama di pesantren.

Berbagai macam model kini sudah mewarnai lembaga pendidikan pesantren ini. Ada yang tradisional, modern, dan tak sedikit hari ini pesantren yang semi modern. Yakni perpaduan antara tradisional dan modern.

‘Ala kulli haal, semakin banyaknya jumlah lembaga pendidikan dengan model pesantren di Indonesia, semakin terbuka harapan besar dalam melahirkan generasi peradaban ummat. Tujuannya pun lii’laai kalimatillah, semoga!

Hari ini kami Pondok Modern Al-Kamil hadir dengan membawa keyakinan dan harapan kebesaran. Untuk generasi dan peradaban.

Inspirasi kami dalam membangun generasi ini, tentunya tidak sederhana. Bukan sekadar hadir tanpa arah. Al-Quran dan As-Sunnah menjadi inspirasi utama kami, juga Sirah Nabawiyah (perjalanan Nabi) serta kegemilangan pendidikan Islam dalam sejarah menjadi rujukan inti.

Izinkan kami melanjutkan estapeta pendidikan Islam yang melahirkan generasi-generasi izzah (penuh kemulian) sebagaimana dulu Rasulullah Saw, para sahabat, tabiin, serta atbauttabiin yang telah berhasil mengukirnya.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (yang mereka khawatirkan kesejahteraan mereka). Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa: 9)

Surat An-Nisa ayat 9 ini menegaskan sekaligus mengingatkan kita akan sebuah generasi. Jangan sampai terlahir setelah kita generasi yang lemah atau tidak berkualitas.

Problematika hari ini, anak dididik sejak usia TK, SD, sampai kuliah, bahkan sampai profesor, tapi mereka tetap lemah. Alih-alih memberikan manfaat kepada ummat, mereka yang terdidik sampai sekolah tinggi tersebut malah memperburuk kondisi bangsa. Contoh konkret di antaranya koruptor merajalela, menjadi pejabat yang dzalim, memusuhi syariat Islam, dan sebagainya.

Apa yang sedang kami lakukan? Tentunya dengan izin Allah Swt, kami akan dan sedang berusaha berjalan pada idealisme pendidikan Islam yang sudah dibuktikan keberhasilannya oleh generasi sebelumnya. Membangun generasi yang memiliki izzah atau kemuliaan dan kebanggaan sebagai seorang Muslim.

Izzah dalam arti bukan sekadar rasa bangga kosong, melainkan perpaduan antara keyakinan yang kokoh, akhlak yang luhur, dan kemampuan menghadapi tantangan zaman dengan kepala tegak.

Jika melihat kata izzah, di sini memiliki akar makna dari bahasa Arab yang berarti kekuatan, kemuliaan, dan keteguhan. Seperti bagaimana Allah SWT berfirman:

“Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman…” (QS. Al-Munafiqun: 8)

Ayat ini menegaskan bahwa izzah sejati hanya dapat diraih jika kita berpegang teguh pada iman dan berada dalam naungan ketaatan kepada Allah.

Inilah yang menjadi pondasi kami. Pondasi dalam membangun generasi izzah. Kokoh dalam aqidah, teguh dalam ilmu, luhur dalam akhlah, mandiri dan produktif.

Izzah ini tentunya harus lahir dari keyakinan yang kuat. Bahwa Islam adalah jalan hidup yang sempurna. Generasi kita harus dikenalkan dengan dasar-dasar tauhid yang kuat sejak dini agar tidak mudah goyah oleh arus pemikiran yang melemahkan iman.

Dan tentunya izzah ini tidak hanya ditentukan oleh iman, tetapi juga oleh kemampuan berkontribusi nyata. Generasi izzah harus menjadi insan yang unggul dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan bidang kehidupan lainnya.

Generasi izzah harus menjadi generasi yang santun dalam tutur kata, adil dalam bersikap, dan bermanfaat bagi sesama. Rasulullah ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.

Generasi izzah perlu dididik untuk menjadi mandiri secara ekonomi, kreatif dalam berkarya, dan mampu memimpin perubahan. Agar tidak terlahir generasi yang ketergantungan berlebihan pada pihak lain yang akan menggerus harga diri.

Generasi izzah bukanlah generasi yang sekadar mengikuti arus, melainkan yang mengarahkan arus. Mereka tidak minder di hadapan peradaban lain, tetapi menjadi bagian dari pembangun peradaban dunia.

Dengan iman sebagai kompas, ilmu sebagai bekal, dan akhlak sebagai pelita, generasi ini akan menjadi benteng kemuliaan umat.

Membangun generasi izzah ini tentunya menjadi tugas kolektif, kami di pesantren, keluarga, masyarakat, dan negara. Kita semua memiliki peran untuk memastikan anak-anak kita tumbuh sebagai pribadi yang bangga akan keislamannya, tangguh menghadapi tantangan, dan berkontribusi bagi kebangkitan peradaban Islam.

Karena izzah bukan sekadar warisan, tapi amanah yang harus terus diperjuangkan.

Penulis : Ust. Larbi Lahabib Sahal, S.Sos (Pimpinan Pondok Modern Al-Kamil)

Scroll to Top